MENELUSURI JEJAK ISLAM DI MURCIA SPANYOL

MENELUSURI JEJAK ISLAM DI MURCIA SPANYOL

Syamsurizal Yazid*

Tulisan berikut merupakan hasil lawatan Penulis ke kota Murcia, Spanyol. Penulis berada di Spanyol sejak tanggal 26 Agustus s/d 7 Oktober 2010 sebagai staf pengajar (teaching staff) melalui Program Erasmus Mundus External Cooperation Window (EMECW) lot. 12 yang bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Eropa dan Asia Tenggara dan Asia Tengah, yang salah satunya adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program pertukaran mahasiswa dan dosen bertujuan, antara lain, untuk membina dan meningkatkan kerjasama antara universitas di Eropa dengan universitas di kawasan Asing Tenggara dan Asia Tengah.

Penulis di depan Kampus La Merced Universidad de Murcia, Spanyol

Murcia merupakan salah satu propinsi di Spanyol yang terletak di sebelah tenggaranya. Luasnya kurang lebih 881, 86 km2. Murcia merupakan salah satu dari dua belas kota metropolitan yang terluas di Spanyol. Penduduknya kurang lebih 1.335.792 (sensus tahun 2005). Kota Murcia didirikan oleh Abdurrahman II pada tahun 831 M. Mayoritas penduduknya pemeluk agama Katholik. Salah seorang ulama dan intelektual Muslim yang cukup masyhur  yang lahir di kota ini adalah Ibnu Arabi, yang nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatmi. Beliau dilahirkan di kota Murcia pada tahun 1165 M. Pada masa kekuasaan Islam di Spanyol,  selama kurang lebih delapan abad (711 M – 1492 M) kota Murcia termasuk salah satu kota penting, di samping Toledo, Saragosa, Cordova, Valencia, Seville, Granada, dan lain-lain, karena kota ini termasuk salah satu kota yang subur penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan. Sungai Segura yang membelah kota ini menambah indahnya kota Murcia.

Islam berkuasa di Andalusia (sekarang Spanyol) kurang lebih delapan abad (711 M-1492 M). Selama waktu tersebut sudah pasti Islam memberikan pengaruh dan kemajuan  yang luar biasa di Spanyol, baik dalam aspek Ilmu pengetahuan dan kebudayaan maupun pembangunan fisik. Menurut catatan K. Ali (1977)—di dalam bukunya A Study of Islamic History—di Cordova saja pada masa kekuasaan Islam ada 300 buah masjid, 100 buah istana yang indah, 13.000 buah rumah dan 300 tempat mandi umum dan lain sebagainya.

Itu baru di Cordova saja. Padahal kekuasaan Islam pada masa itu bukan hanya di Cordova, tapi juga di kota-kota lain di Spanyol seperti yang sudah disebutkan di atas.

Kendati ketika Islam berkuasa banyak meninggalkan bangunan-bangunan fisik di Spanyol, tetapi tidak mudah menelusuri jejak peninggalan Islam di kota Murcia, karena setelah kekalahan kaum Muslimin di Spanyol seluruh peninggalan Islam yang berupa bangunan fisik, seperti masjid, istana, perpustakaan, dan bangunan-bangunan fisik lain sudah dirombak dan diubah fungsinya, antara lain ada yang dijadikan gereja, casino, dan sebagainya. Di samping itu waktu Penulis sangat terbatas.

Paling tidak ada tiga bukti  yang sempat Penulis lihat dan kunjungi, yaitu gereja Santa Maria, yang dulunya adalah masjid; gedung Casino yang dulunya adalah halaman dan ruang rias wanita;  monumen Abdurrahman II, yang dibangun oleh orang Murcia sendiri.

Gereja Santa Maria dulunya adalah masjid. Kemudian setelah Islam mengalami kekalahan, maka masjid tersebut direnovasi dan dijadikan gereja. Hal ini dapat diketahui dari tulisan yang dipampang di depan pintunya, antara lain:

“(Cathedral Church of Saint Mary). 14 to 18 century. The Santa Maria Cathedral is a key  piece from Baroque period in Spain. It is the most important monument building in the city and it is comprised of every artistic style that occurs from the beginning of its construction until the completion of its impressive Baroque façade in 1751. The cathedral has many Renaissance and Baroque elements, although the style of the interior is mainly Gothic. It was created in the year 1394, in the place where there was a Moorish mosque…”

 

(Gereja Katedral Santa Maria).  Abad 14 sampai 18. Katedral Santa Maria adalah suatu bagian penting  dari masa gaya arsitektur abad pertengahan di Spanyol. Ini adalah bangunan monumen yang terpenting di kota tersebut dan bangunan ini terdiri dari gaya artistik yang sudah  ada sejak awal pembangunannya sampai penyempurnaan arsitekturnya pada bagian depannya di tahun 1751. Katedral ini memiliki banyak unsur arsitektur masa abad pertengahan, walaupun gaya interiornya adalah gaya Romawi. Gereja ini dibangun pada tahun 1394, yang dulunya adalah sebuah masjid orang-orang Moor…”.

Penulis di depan gereja Santa Maria Murcia Spanyol, yang dulunya adalah masjid

Perlu diketahui bahwa Moorish, yang berarti bangsa Moor,  adalah sebutan orang Spanyol terhadap orang Islam di Spanyol pada masa kekuasaan Islam. Ada yang mengatakan bahwa disebut demikian karena orang-orang Islam tersrebut datang dari Maroko. Padahal orang-orang Islam sendiri tidak pernah menyebut diri mereka dengan sebutan seperti itu. Mereka adalah orang-orang Arab yang berasal dari Madinah, Damaskus dan daerah lainnya di Timur Tengah.

Ketika masuk dan melihat bagian dalam, Penulis tidak menemukan  adanya bekas-bekas yang masih menggambarkan tentang Islam, kecuali gaya arsitekturnya yang ada di atap. Sementara yang lainnya sudah dipenuhi oleh lukisan patung bunda Maria dan lain sebagainya.

Adapun yang kedua adalah bangunan peninggalan Islam berupa halaman terbuka dan ruang rias wanita.  Kemudian direnovasi dan diubah fungsinya menjadi casino. Setiap orang pasti mengetahui apa yang disebut dengan casiono adalah tempat untuk melakukan perjudian dan mabuk-mabukan. Padahal di tembok ruang resepsionisnya masih dipenuhi kaligrafi Arab yang berbunyi “wa laa ghaaliba illallah” yang artinya tidak ada kemenangan kecuali bagi Allah. Mungkin ini untuk mengingatkan orang bahwa kemenangan itu hanya milik Allah.

Bukti ketiga yang membuktikan bahwa Islam pernah berkuasa Murcia monumen Abdurrahman II. Ini dibangun oleh orang-orang Murcia sebagai pengakuan atas jasa beliau sebagai pendiri kota Murcia. Ironisnya, dalam monumen ini tampak patung Abdurrahman II sedang memegang sebilah pedang. (Mungkin) ini ada unsur kesengajaan untuk menimbulkan kesan bahwa Islam itu disiarkan dengan pedang. Tuduhan dan propaganda  semacam ini memang bukan sesuatu hal yang baru, melainkan sudah lama dilakukan, khususnya oleh para orientalis, dengan tujuan agar publik membenci Islam.

Abdurrahman II atau yang sering juga disebut dengan Abdurrahman Al-Ausath, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Hasan Ibrahim Hasan (1964: 2/237-240)—di dalam bukunya Tarikh Al-Islam—adalah bahwa di bawah kekuasaan beliau Andalusia mengalami kemajuan yang pesat bukan saja dalam bidang seni, budaya dan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam bidang pembangunan fisik, seperti masjid, jalan umum, jembatan, irigasi, lembaga pendidikan, rumah sakit, tempat pemandian umum, taman, dan lain sebagainya. Pada masa kekuasaannya pada awalnya kehidupan toleransi antar umat beragama berjalan sangat baik, terutama antara umat Islam dengan Nasrani, tetapi di akhir kekuasaannya muncul fitnah dari kalangan para pendeta untuk mengadu domba antara umat Islam dengan Nasrani, dengan memunculkan caci maki terhadap Nabi Muhammad s.a.w., yang menyebabkan Abdurrahman II terpaksa mengambil tindakan dengan menghukum para pendeta yang menyebarkan fitnah tersebut.

Lantas,  bagaimana keadaan umat Islam di sana saat ini?  Menurut penjelasan ketua Takmir Masjid As-Salam Murcia bahwa jumlah umat Islam di Murcia sampai saat ini  hannya berjumlah sekitar 1.000 orang saja.  Pada umumnya mereka ini pendatang dari negara Maroko (Afrika). Jumlah masjidnya hanya tiga buah. Masjid terbesar adalah masjid As-Salam yang berukuran kurang lebih 30 m x 30 m. Sedangkan dua masjid lainnya hanya berukuran  10 m x 10 m. Adzan tidak boleh pakai pengeras suara yang diletakkan di luar atau atas masjid. Sementara lonceng gereja bebas dibunyikan dengan keras setiap saat. Seperti dikatakan oleh Takmir masjid As-Salam bahwa undang-undang di Spanyol memang melarang adzan diperdengarkan di luar masjid, kecuali masjid di Madrid, itupun hanya pada hari Jum’at. Dengan adanya pembatasan ini bagi umat Islam yang tempat tinggalnya jauh dan ingin salat berjama’ah di masjid, terutama hari Jum’at, maka harus melihat jam untuk memperkirakan masuknya waktu salat.

Di samping itu undang-undang di Spanyol melarang umat Islam membangun masjid sebagai bangunan tersendiri, melainkan menyatu dengan rumah susun (flat) yang terletak di lantai dasar, kecuali di Madrid ada sebuah masjid yang diizinkan berdiri sendiri yang dibangun dari dana sumbangan dari Kerajaan Arab Saudi.

Dalam hal ini salah seorang teman Penulis, Mohamed Al-Kasadi dari Hadhramaut yang sedang menempuh program doktor di bidang Ekonomi di Universidad de Murcia, memberikan komentar, antara lain, bahwa dengan adanya pembatasan terhadap aktivitas umat Islam ini merupakan bukti bahwa orang-orang Barat pada dasarnya tidak menjunjung tinggi kebebasan. Kalaupun mereka berkoar-koar meneriakkan “kebebasan”, tetapi itu hanya omong kosong. Berbeda halnya dengan di Negara-negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim, maka  tidak ada pembatasan terhadap aktivitas keagamaan dan larangan pembangunan tempat ibadah bagi agama-agama lain. Di bandara Madrid, yang merupakan bandara Internasional, lebih-lebih di bandara Murcia (San Javier),  tidak ada tempat Salat (mushalla) sebagaimana bandara-bandara di Indonesia. Karena itu, seseorang yang akan Salat terpaksa  melakukannya di tempat duduk.

Kalau pada masa kekuasaan Islam banyak orang-orang Spanyol non muslim yang beradabtasi dengan pola dan cara hidup orang-orang Islam. Tetapi sekarang bekas-bekas itu sudah tidak ada. Berciuman antara muda-mudi di tempat umum sudah dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Mereka tidak merasa malu meskipun banyak orang yang melihat. Demikian juga dengan judi dan minuman keras.  Karena itu di sini banyak sekali bar yang menjual minuman keras, bahkan di kota Murcia ini ada pabrik minuman keras yang cukup besar. Hampir setiap pagi, lebih-lebih Minggu pagi banyak bekas botol minuman keras yang digeletakkan di taman-taman. Demikian juga dengan tata cara berpakaian, terutama pada musim panas (summer), pada umumnya pakain para wanita minor-minor, termasuk ketika mereka kuliah.

Kendati demikian,  ada hal yang positif, antara lain, adalah pada umumnya mereka  sangat menghormati para pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki yang akan melinatas di jalan yang tidak ada lampu tanda lalu lintas (traffic light), maka sopir akan menghentikan kendaraannya dan mempersilahkan pejalan kaki lewat. Mereka juga pada umumnya ramah dan perhatian (care) terhadap orang lain. Misalnya, apabila berpapasan dengan tetangganya di jalan, sekalipun orang asing, mereka akan menyapa dengan ucapan “hola” atau , apabila waktunya pagi hari, mereka akan mengucapkan “buenos días” (selamat pagi). Demikian juga kalau kita bertanya kepada mereka, maka mereka akan merespon, sepanjang bahasa yang kita gunakan bahasa yang mereka pahami (bahasa Spanyol). Pada umumnya para pelayan dan penjaga toko di Murcia hanya dapat berbahasa Spanyol. Beberapa kali Penulis mencoba berkomumkasi dengan menggunakan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak paham. Mereka baru paham  setelah Penulis  menggunakan bahasa Spanyol.

 


* Penulis adalah Dosen tetap Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi Teaching Staff di Universidad de Murcia, Spanyol dalam Program Erasmus Mundus.

309 thoughts on “MENELUSURI JEJAK ISLAM DI MURCIA SPANYOL

  1. Fancy dress for boys will always be popular and there are so many different choices out there these days from animals to TV star themed costumes, film stars to traditional costumes such as angels and fairies.

  2. Coach Hire Comparison Site Offering Cheap Coach Hire Prices Within Minutes. Find Coach Hire and Mini Bus Hire Prices Quickly and Easily NOW For FREE.

  3. Tryst cleaners offers domestic and commercial cleaning services in Glasgow, paisley, and surrounding areas.We are experts in our field for providing detailed solutions for cleaning offices & houses using highly trained members of staff, who employ eco friendly cleaning methods.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)