Materi Tafsir Ahkam II (Syari’ah)

Materi Tafsir Ahkam II (Syari’ah)

HUKUM KURBAN

Syamsurizal Yazid

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(36) لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ(37).( سورة الحج: 36-37)

 1.  Terjemahan

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

 2.  Makna al-Mufradat

  • ·   الْبُدْنَ : جمع بدنة وهى اسم للواحد من الإبل، ذكرا أو أنثى، وسميت بذلك لعظم بدنها. وقد اشتهر اطلاقها فى الشرع على البعير الذى يهدى للكعبة.

Budnah : nama untuk unta/sapi (yang digemukkan), baik itu jantan maupun betina. Dinamakan demikian karena tubuhnya yang besar. Di dalam syara, istilah ini lebih dikenal sebutan untuk unta yang dikurbankan untuk Ka’bah.[1] 

  • ·   صَوَافَّ :جمع صافة:  قائماتٍ صففن أيديَهنّ وأرجُلَهنّ

Berdiri tegak dengan membariskan kedua tangan dan kaki. Maksudnya di sini adalah onta yang akan disembelih berdiri dengan membariskan keempat kakinya.[2] 

  • ·   وَجَبَتْ جُنُوبُهَا : سقطت على الأرض بعد النحر

Jatuh ke tanah setelah dsembelih.[3]

  • ·   الْقَانِعَ   : الراضى بماقدّرالله من الفقر والبؤس. مأخوذ من قنع -يقنع إذا رضى
  • ·   وَالْمُعْتَرَّ :الّذى يتعرَّض لسؤال النّاس. وقيل بالعكس : القانع: السائل. والمعتر الّذى لايسأل النّاس.

Al-qaani’ adalah orang yang rela dengan kemiskinan dan kesengaraannya yang sudah ditentukan Allah baginya. Diambil dari kata (merasa) cukup/puas: rela. Sedangkan al-mu’tarr: adalah orang yang terbuka atas pemberian manusia (meminta-minta). Ada yang mengatakan sebaliknya. Al-qaani’ adalah orang yang meminta-minta dan al- mu’tarr adalah orang yang tidak meminta-minta.[4]

 3.  Pengertian Umum

Allah s.w.t. menjelaskan di dalam ayat 36 dari surat al-Hajj di atas bahwa unta merupakan di antara syiar Agama Allah. Pada diri untuk tersebut kamu dapat melakukan pengabdian kepada Allah dengan menyembelihnya dan memberi makan dengan unta tersebut. Unta tersebut bermanfaat bagimu, baik di dunia maupun di akherat. Karena itu, sebutlah nama Allah pada saat menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan membariskan keempat kakinya. Kalau unta tersebut sudah jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi, makanlah dan berilah makan dengannya para peminta-minta  dan orang-orang yang rela menerima takdir  miskin dan menderita dari Allah s.w.t.

Kemudian di dalam ayat yang kedua Allah s.w.t  menjelaskan bahwa daging unta tersebut tidak akan sampai kepada Allah.

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah s.w.t. menjelaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging-daging kurban yang dihadiahkan untuk ka’bah tersebut, melainkan keikhlasan dan ketaatan melaksanakan perintah-Nya dan ketaqwaannya. Amalan-amalan tersebut diterima didasarkan pada ketaqwaan dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Amalan-amalan yang dilaksanakan dengan tanpa didasari ketaqwaan dan keikhlasan tidak obahnya seperti gambar yang tanpa ruh. Karena itu janganlah seseorang mengira bahwa ia akan menerima pahala (reward) dari Allah s.w.t. dengan daging yang dipotong dan kemudian disebarkan dan tidak juga darahnya yang dilumurkan ke ka’bah yang suci, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Jahiliyah. Yang diterima Allah s.w.t. hanyalah ketaqwaan dan meninggalkan amalan-amalan  yang bertentangan dengan Islam seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik tersebut.

Setelah itu Allah s.w.t. mengakhiri ayat ini dengan mengingatkan orang-orang beriman tentang wajibnya bersyukur dan mengagungkan-Nya yang telah menciptakan hewan-hewan tersebut untuk mereka, untuk dikurbankan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka dapat memakan daging-dagingnya dan menyedekahkan sebagiannya untuk mendapatkan pahala dari Allah s.w.t. Berikanlah kabar gembira kepada mereka yang telah berbuat kebaikan ini bahwa balasannya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan. 

4. Asbabun Nuzul

Dalam suatu riwayat yang berasal dari Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Juraij dikemukakan bahwa kebiasaan orang-orang  Jahiliyah membalur baitullah dengan daging dan darah unta. Kemudian para sahabat Nabi s.a.w. berkata: Kita lebih berhak membalurnya dari mereka. Maka turunlah ayat 37 dari surat al-Hajj ini.[5]

Lebih jelasnya riwayat ini disebutkan oleh al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya: [6]

قال ابن عباس: (كان أهل الجاهلية يضرجون البيت بدماء البدن, فأراد المسلمون أن يفعلوا ذلك) فنزلت الآية.

 4.  Aspek Qira’ah

Mayoritas ahli qira’ah (فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ  ) bentuk plural dari

            صافة Dan ada yang membacanya (صوافن) bentuk plural dari  صافنة yang berarti yang berdiri dengan tiga kaki dan kakinya yang satu diangkat. Ada juga yang membacanya صوافى  bentuk plural dari صافية yang berarti ihklas atau murni untuk Allah s.w.t. [7]

 5.  Penafsiran 

 A. Allah .s.w.t. menjelaskan bahwa penciptaan hewan-hewan untuk manusia merupakan salah satu nikmat yang wajib disyukuri. Kalau di dalam ayat ini penjelasan tentang manfaat hewan ini masih bersifat umum (فِيهَا خَيْرٌ ). Kemudian penjelasannya secara terperinci ada dalam ayat-ayat yang lain, seperti dalam firman-Nya di dalam surat Yasin, ayat 71-73:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ (71)وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ(72)وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

Artinya:

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.

Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Begitu pula firman-Nya dalam surat an-Nahl: 5-7:

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ(5)وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ(6)وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya:

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfa`at, dan sebahagiannya kamu makan.

Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.

Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

          B. Yang dimaksud dengan firman Allah s.w.t. (مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ) yaitu tanda-tanda atau syiar-syiar  syariat (perundangan) yang diciptakan Allah untuk para hamba-Nya. Penghubungan kata syiar ini dengn kata Allah adalah untuk maksud “pemuliaan” seperti kata ( ناقة الله ), ( بيت الله ). Hewan-hewan ini dikatakan sebagai syiar-syiar, sebab tujuannya (diciptakannya ) untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan cara mengurbankannya dan cara-cara lain yang termasuk perbuatan baik.

  6.  Kandungan Hukum

          A. Apakah arti الْبُدْنَ  hanya terbatas pada unta dan sapi?

                        Ulama sepakat bahwa الْبُدْنَ  sebutan tunggal (singular) untuk unta, baik jantan maupun betina. Dengan demikian ulama sepakat kata الْبُدْنَ  secara umum berarti unta. Dalam istilah syara’ sudah sangat dikenal bahwa الْبُدْنَ  diartikan unta yang dikurbankan untuk ka’bah.  Hanya saja di kalangan ulama berbeda pendapat bahwa apakah kata   البدنة juga termasuk  البقرة  ? Sebab sapi juga boleh dijadikan kurban untuk tujuh orang sebagaimana juga unta. Dalam hal ini ada dua pendapat:

                        1.  Madzhab Hanafi.

 Menurut madzahab Hanafi dalam kata البدنة juga bermakna    البقرة , sebab  kata البدنة merupakan kata musytarak yang mempunyai dua arti. Argumentasi mereka adalah:

                                  a.  Hadits yang diriwayatkan dari Jabir r.a.[8]

  • ·   عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Artinya:

Dari Jabir bin Abdullah berkata: Kami menunaikan haji bersama Rasulullah s.a.w., maka kami menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.

                                  b.  Atsar (perkataan Sahabat).

               Di samping hadits di atas, madzhab Hanafi juga menggunakan dasar apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar r.a. yang menyatakan bahwa

“Kami tidak mengenal kata البدنة kecuali maksudnya unta dan sapi”. [9]

                        2.  Madzhab Syafi’i

Menurut madzhab Syafi’i –dengan mengambil pendapat Mujahid—berpendapat bahwa secara hakiki kata الْبُدْنَ  hanya bermakna unta. Adapun kalaupun kata الْبُدْنَ dibawa kepada makna البقر , maka ini bukan makna hakiki, melainkan majaz.

Argumentasi madzhab ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Jabir r.a.: [10]

أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: تجزئ البدنة عن سبعة والبقرة عن سبعة

Artinya:

Bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Cukup unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang”.

Menurut mereka hadits ini memperkuat pendapat mereka, sebab sesuatu yang diathafkan (yang diikutkan) bisa saja mengalami perubahan. Artinya kata البقرة yang mengikut kata البدنة  dapat saja mengalami perubahan, sehingga tidak harus bermakna البقرة.

Ash-Shabuni menjelaskan bahwa menurut dzahir ayat makna hakiki dari kata البدنة adalah الإبل  (unta). Hal ini bwerdasarkan firman-Nya:

فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ  Untalah hewan yang dijadikan kurban, sedangkan sapi hanya hewan sembelihan biasa. Adapun perkataan Jabir r.a. dan Ibnu Umar r.a. di atas yang menyatakan bahwa البدن juga berarti الأبل والبقر , maka ini dapat dibawa kepada maksud ingin menyatukan hukum keduanya. Dengan demikian berarti bukan persamaan makna. Allah yang lebih mengetahui maksudnya.[11]

          B. Hewan apa yang paling baik dijadikan kurban?

 Ulama sepakat bahwa hewan kurban itu berupa unta, sapi, kambing dan domba. Hewan kurban ini, baik jantan maupun betina, sama saja. Mereka juga sepakat bahwa, di antara hewan-hewan ini, yang terbaik dijadikan kurban, secara berurutan, adalah unta, sapi dan kambing, sebab dilihat dari segi fisik unta lebih bermanfaat bagi orang-orang fakir  daripada  sapi karena besarnya, demikian juga dengan sapi lebih besar dari kambing. Kambing hanya untuk satu orang dan unta dan sapi untuk tujuh orang. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang yang terbaik bagi satu orang: apakah sepertujuh unta atau sapi atau satu kambing? Yang terpenting di sini mana yang lebih bermanfaat bagi para fakir.

            Adapun hadits yang menyatakan bahwa unta atau sapi dibolehkan untuk tujuh orang adalah hadits  yang diriwayatkan dari Jabir r.a.[12]

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ

Artinya:

Dari Jabir bin Abdullah berkata: Kami menunaikan haji bersama Rasulullah s.a.w., maka kami menyembelih unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.

          C. Apa hukum memakan daging kurban?

               Allah s.w.t. memerintahkan untuk memakan  daging hewan kurban, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Hajj, ayat 28:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

            Artinya:

            “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfa`at bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir

            Dzahir ayat ini mengandung makna kurban haji tamattu’ dan kurban sunnah. Kurban yang wajib adalah yang dilakukan karena melakukan pelanggaran dari kewajiban-kewajiban haji atau umrah.

                        Ulama ahli Fiqih berbeda pendapat tentang masalah di atas, yang secara ringkas seperti berikut:

                        1.  Menurut Abu Hanifah dan Ahmad boleh memakan daging hewan kurban haji tamattu’ , qiran dan kurban sunnah dan tidak boleh dimakan daging hewan kurban dari dam al-jaza’ seperti membunuh binatang pada saat haji. Menurut Imam Malik boleh memakan daging hewan kurban haji tamattu’, qiran dan karena melakukan hal-hal yang merusakkan haji kecuali daging hewan kurban denda karena membunuh binatang yang dilarang dalam haji serta hewan kurban nazar untuk orang-orang miskin.

                        2.  Menurut Imam Syafi’i  bahwa orang yang berkurban tidak boleh memakan daging hewan kurban yang wajib seperti denda karena membunuh hewan pada waktu haji, haji tamattu’, haji qiran, melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang merusakkan haji dan qurban nazar.

Kalau kurban itu bukan kurban tathawwu’, maka hendaklah ia memakan dan menyedekahkannya. Boleh baginya memakan dari daging kurban sunnah saja.

Letak perbedaan pendapat antara mayoritas ulama Fiqih dengan Imam Syafi’i adalah pada kurban haji tamattau’ , bahwa dam yang wajib bagi mayoritas ulama Fiqih dam ungkapan rasa syukur, maka ini boleh dimakan dan bagi mereka  dam jaza’ tidak boleh dimakan dagingnya.

Argumentasi Imam Syafi’i dalam hal wajibnya memberi makan para fakir dengan daging hewan kurban dengan firman Allah dalam surat al-Hajj, ayat 36 dan 28:

  • وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa hukum memberi makan para fakir d  engan daging hewan kurban adalah sunnah (nadb), karena  darah (penyembelihan) dalam rangka ibadah sudah dianggap sah dengan dengan cara mengalirkan darah (menyembelih). Sedangkan memberi makan para fakir, maka tetap dalam hukum yang umum, yaitu sunnah (nadb).

 D. Kapan waktu penyembelihan?

               Ulama berbeda pendapat tentang waktu penyembelihan hewan kurban.

                    1.  Menurut Imam Syaf’i waktu penyebelihan adalah  pada hari tasyriq (hari kedua, ketiga dan keempat) dari hari Iedul Adlha. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: [13]

قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ وَكُلُّ مُزْدَلِفَةَ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ مُحَسِّرٍ وَكُلُّ فِجَاجِ مِنًى مَنْحَرٌ وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ وَقَالَ كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

                      Kalau waktunya sudah berlalu, maka hewan qurban wajib, disembelih pada saat itu sebagai qadla’ dan dosa hukumnya menunda-nundanya.

                    2.  Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad bahwa waktu menyembelih hewan kurban, baik yang wajib maupun yang sunnah, adalah pada hari penyembelihan (hari pertama, kedua dan ketiga) dari hari Iedul Adlha. Tidak sah disembelih pada hari keempat.

                      Imam Hanafi sepakat dengan madzhab Malik dan Ahmad dalam hal penyembelihan hewan kurban untuk haji tamattu’ dan qiran. Sedangkan hewan kurban nazar dan kafarat serta sunnah dapat disembelih kapan saja.

                      Ada yang menceritakan dari An-Nakha’i bahwa durasi waktu   penyembelihan mulai dari hari penyembelihan sampai dengan akhir bulan Dzul Hijjah.

                      Adapun tempat penyembelihan, baik itu kurban yang wajib maupun sunnah, adalah Tanah Haram (Makkah). Ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Maidah, ayat 95 dan al-Baqarah, ayat 196  :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

          Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa sampai ke Ka`bah, atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah mema`afkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

 

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

          Artinya:

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (didalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil-haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya”.

  8.  Kesimpulan

  1. Memuliakan kurban dan melaksanakannya sebagai manifestasi taqarrub kepada-Nya adalah bagian dari syiar Agama Islam.
  2. Kurban dan penyembelihan tidak sah kecuali dengan hewan berupa unta, sapi dan kambing.

Dengan  ibadah penyembelihan kurban berarti menghidupkan untuk mengingat penebusan Ismail a.s. dengan ayahnya Ibrahim a.s. ketika ia diperintahkan Allah s.w.t. untuk menyembelih putranya

 


[1] Ibid., hal. 609., dan lihat juga al-Mu’jam al-Wasith, jilid 1, hal. 44.

[2] Husain Muhammad Makhluf: op.cit., hal. 209 dan ash-Shabuni: op.cit., hal. 609.

[3] Husain Muhammad Makhluf: loc.cit.

[4] Ash-Shabuni: op.cit., hal. 610.

[5] KHQ Shaleh, dkk. Asbabun Nuzul. Dipenogoro, Bandung, 1975, hal. 326.

[6] Tafsir al-Qurthubi: op.cit.

[7] Ash-Shabuni: op.cit., hal. 612.

[8] Shahih Muslim, kitab al-hajj, bab al-isytiraak fi al-hadyi……, hadits nomor 2324.

[9] Ash-Shabuni: op.cit., hal. 614.

[10] Ibid.

[11] Ibid

[12] Shahih Muslim, kitab al-hajj, bab al-isytiraak fi al-hadyi……, hadits nomor 2324.

[13] Musnad Ahmad: op.cit., kitab awwalu musnad al-madaniyiin ajmain, bab hadits Jubair bin Muth’im, hal. 16151.

779 thoughts on “Materi Tafsir Ahkam II (Syari’ah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha Garb (1.5)