MENELUSURI JEJAK ISLAM DI MURCIA SPANYOL

MENELUSURI JEJAK ISLAM DI MURCIA SPANYOL

Syamsurizal Yazid*

Tulisan berikut merupakan hasil lawatan Penulis ke kota Murcia, Spanyol. Penulis berada di Spanyol sejak tanggal 26 Agustus s/d 7 Oktober 2010 sebagai staf pengajar (teaching staff) melalui Program Erasmus Mundus External Cooperation Window (EMECW) lot. 12 yang bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Eropa dan Asia Tenggara dan Asia Tengah, yang salah satunya adalah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program pertukaran mahasiswa dan dosen bertujuan, antara lain, untuk membina dan meningkatkan kerjasama antara universitas di Eropa dengan universitas di kawasan Asing Tenggara dan Asia Tengah.

Penulis di depan Kampus La Merced Universidad de Murcia, Spanyol

Murcia merupakan salah satu propinsi di Spanyol yang terletak di sebelah tenggaranya. Luasnya kurang lebih 881, 86 km2. Murcia merupakan salah satu dari dua belas kota metropolitan yang terluas di Spanyol. Penduduknya kurang lebih 1.335.792 (sensus tahun 2005). Kota Murcia didirikan oleh Abdurrahman II pada tahun 831 M. Mayoritas penduduknya pemeluk agama Katholik. Salah seorang ulama dan intelektual Muslim yang cukup masyhur  yang lahir di kota ini adalah Ibnu Arabi, yang nama lengkapnya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Hatmi. Beliau dilahirkan di kota Murcia pada tahun 1165 M. Pada masa kekuasaan Islam di Spanyol,  selama kurang lebih delapan abad (711 M – 1492 M) kota Murcia termasuk salah satu kota penting, di samping Toledo, Saragosa, Cordova, Valencia, Seville, Granada, dan lain-lain, karena kota ini termasuk salah satu kota yang subur penghasil sayur-sayuran dan buah-buahan. Sungai Segura yang membelah kota ini menambah indahnya kota Murcia.

Islam berkuasa di Andalusia (sekarang Spanyol) kurang lebih delapan abad (711 M-1492 M). Selama waktu tersebut sudah pasti Islam memberikan pengaruh dan kemajuan  yang luar biasa di Spanyol, baik dalam aspek Ilmu pengetahuan dan kebudayaan maupun pembangunan fisik. Menurut catatan K. Ali (1977)—di dalam bukunya A Study of Islamic History—di Cordova saja pada masa kekuasaan Islam ada 300 buah masjid, 100 buah istana yang indah, 13.000 buah rumah dan 300 tempat mandi umum dan lain sebagainya.

Itu baru di Cordova saja. Padahal kekuasaan Islam pada masa itu bukan hanya di Cordova, tapi juga di kota-kota lain di Spanyol seperti yang sudah disebutkan di atas.

Kendati ketika Islam berkuasa banyak meninggalkan bangunan-bangunan fisik di Spanyol, tetapi tidak mudah menelusuri jejak peninggalan Islam di kota Murcia, karena setelah kekalahan kaum Muslimin di Spanyol seluruh peninggalan Islam yang berupa bangunan fisik, seperti masjid, istana, perpustakaan, dan bangunan-bangunan fisik lain sudah dirombak dan diubah fungsinya, antara lain ada yang dijadikan gereja, casino, dan sebagainya. Di samping itu waktu Penulis sangat terbatas.

Paling tidak ada tiga bukti  yang sempat Penulis lihat dan kunjungi, yaitu gereja Santa Maria, yang dulunya adalah masjid; gedung Casino yang dulunya adalah halaman dan ruang rias wanita;  monumen Abdurrahman II, yang dibangun oleh orang Murcia sendiri.

Gereja Santa Maria dulunya adalah masjid. Kemudian setelah Islam mengalami kekalahan, maka masjid tersebut direnovasi dan dijadikan gereja. Hal ini dapat diketahui dari tulisan yang dipampang di depan pintunya, antara lain:

“(Cathedral Church of Saint Mary). 14 to 18 century. The Santa Maria Cathedral is a key  piece from Baroque period in Spain. It is the most important monument building in the city and it is comprised of every artistic style that occurs from the beginning of its construction until the completion of its impressive Baroque façade in 1751. The cathedral has many Renaissance and Baroque elements, although the style of the interior is mainly Gothic. It was created in the year 1394, in the place where there was a Moorish mosque…”

 

(Gereja Katedral Santa Maria).  Abad 14 sampai 18. Katedral Santa Maria adalah suatu bagian penting  dari masa gaya arsitektur abad pertengahan di Spanyol. Ini adalah bangunan monumen yang terpenting di kota tersebut dan bangunan ini terdiri dari gaya artistik yang sudah  ada sejak awal pembangunannya sampai penyempurnaan arsitekturnya pada bagian depannya di tahun 1751. Katedral ini memiliki banyak unsur arsitektur masa abad pertengahan, walaupun gaya interiornya adalah gaya Romawi. Gereja ini dibangun pada tahun 1394, yang dulunya adalah sebuah masjid orang-orang Moor…”.

Penulis di depan gereja Santa Maria Murcia Spanyol, yang dulunya adalah masjid

Perlu diketahui bahwa Moorish, yang berarti bangsa Moor,  adalah sebutan orang Spanyol terhadap orang Islam di Spanyol pada masa kekuasaan Islam. Ada yang mengatakan bahwa disebut demikian karena orang-orang Islam tersrebut datang dari Maroko. Padahal orang-orang Islam sendiri tidak pernah menyebut diri mereka dengan sebutan seperti itu. Mereka adalah orang-orang Arab yang berasal dari Madinah, Damaskus dan daerah lainnya di Timur Tengah.

Ketika masuk dan melihat bagian dalam, Penulis tidak menemukan  adanya bekas-bekas yang masih menggambarkan tentang Islam, kecuali gaya arsitekturnya yang ada di atap. Sementara yang lainnya sudah dipenuhi oleh lukisan patung bunda Maria dan lain sebagainya.

Adapun yang kedua adalah bangunan peninggalan Islam berupa halaman terbuka dan ruang rias wanita.  Kemudian direnovasi dan diubah fungsinya menjadi casino. Setiap orang pasti mengetahui apa yang disebut dengan casiono adalah tempat untuk melakukan perjudian dan mabuk-mabukan. Padahal di tembok ruang resepsionisnya masih dipenuhi kaligrafi Arab yang berbunyi “wa laa ghaaliba illallah” yang artinya tidak ada kemenangan kecuali bagi Allah. Mungkin ini untuk mengingatkan orang bahwa kemenangan itu hanya milik Allah.

Bukti ketiga yang membuktikan bahwa Islam pernah berkuasa Murcia monumen Abdurrahman II. Ini dibangun oleh orang-orang Murcia sebagai pengakuan atas jasa beliau sebagai pendiri kota Murcia. Ironisnya, dalam monumen ini tampak patung Abdurrahman II sedang memegang sebilah pedang. (Mungkin) ini ada unsur kesengajaan untuk menimbulkan kesan bahwa Islam itu disiarkan dengan pedang. Tuduhan dan propaganda  semacam ini memang bukan sesuatu hal yang baru, melainkan sudah lama dilakukan, khususnya oleh para orientalis, dengan tujuan agar publik membenci Islam.

Abdurrahman II atau yang sering juga disebut dengan Abdurrahman Al-Ausath, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Hasan Ibrahim Hasan (1964: 2/237-240)—di dalam bukunya Tarikh Al-Islam—adalah bahwa di bawah kekuasaan beliau Andalusia mengalami kemajuan yang pesat bukan saja dalam bidang seni, budaya dan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam bidang pembangunan fisik, seperti masjid, jalan umum, jembatan, irigasi, lembaga pendidikan, rumah sakit, tempat pemandian umum, taman, dan lain sebagainya. Pada masa kekuasaannya pada awalnya kehidupan toleransi antar umat beragama berjalan sangat baik, terutama antara umat Islam dengan Nasrani, tetapi di akhir kekuasaannya muncul fitnah dari kalangan para pendeta untuk mengadu domba antara umat Islam dengan Nasrani, dengan memunculkan caci maki terhadap Nabi Muhammad s.a.w., yang menyebabkan Abdurrahman II terpaksa mengambil tindakan dengan menghukum para pendeta yang menyebarkan fitnah tersebut.

Lantas,  bagaimana keadaan umat Islam di sana saat ini?  Menurut penjelasan ketua Takmir Masjid As-Salam Murcia bahwa jumlah umat Islam di Murcia sampai saat ini  hannya berjumlah sekitar 1.000 orang saja.  Pada umumnya mereka ini pendatang dari negara Maroko (Afrika). Jumlah masjidnya hanya tiga buah. Masjid terbesar adalah masjid As-Salam yang berukuran kurang lebih 30 m x 30 m. Sedangkan dua masjid lainnya hanya berukuran  10 m x 10 m. Adzan tidak boleh pakai pengeras suara yang diletakkan di luar atau atas masjid. Sementara lonceng gereja bebas dibunyikan dengan keras setiap saat. Seperti dikatakan oleh Takmir masjid As-Salam bahwa undang-undang di Spanyol memang melarang adzan diperdengarkan di luar masjid, kecuali masjid di Madrid, itupun hanya pada hari Jum’at. Dengan adanya pembatasan ini bagi umat Islam yang tempat tinggalnya jauh dan ingin salat berjama’ah di masjid, terutama hari Jum’at, maka harus melihat jam untuk memperkirakan masuknya waktu salat.

Di samping itu undang-undang di Spanyol melarang umat Islam membangun masjid sebagai bangunan tersendiri, melainkan menyatu dengan rumah susun (flat) yang terletak di lantai dasar, kecuali di Madrid ada sebuah masjid yang diizinkan berdiri sendiri yang dibangun dari dana sumbangan dari Kerajaan Arab Saudi.

Dalam hal ini salah seorang teman Penulis, Mohamed Al-Kasadi dari Hadhramaut yang sedang menempuh program doktor di bidang Ekonomi di Universidad de Murcia, memberikan komentar, antara lain, bahwa dengan adanya pembatasan terhadap aktivitas umat Islam ini merupakan bukti bahwa orang-orang Barat pada dasarnya tidak menjunjung tinggi kebebasan. Kalaupun mereka berkoar-koar meneriakkan “kebebasan”, tetapi itu hanya omong kosong. Berbeda halnya dengan di Negara-negara Islam atau yang mayoritas penduduknya Muslim, maka  tidak ada pembatasan terhadap aktivitas keagamaan dan larangan pembangunan tempat ibadah bagi agama-agama lain. Di bandara Madrid, yang merupakan bandara Internasional, lebih-lebih di bandara Murcia (San Javier),  tidak ada tempat Salat (mushalla) sebagaimana bandara-bandara di Indonesia. Karena itu, seseorang yang akan Salat terpaksa  melakukannya di tempat duduk.

Kalau pada masa kekuasaan Islam banyak orang-orang Spanyol non muslim yang beradabtasi dengan pola dan cara hidup orang-orang Islam. Tetapi sekarang bekas-bekas itu sudah tidak ada. Berciuman antara muda-mudi di tempat umum sudah dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Mereka tidak merasa malu meskipun banyak orang yang melihat. Demikian juga dengan judi dan minuman keras.  Karena itu di sini banyak sekali bar yang menjual minuman keras, bahkan di kota Murcia ini ada pabrik minuman keras yang cukup besar. Hampir setiap pagi, lebih-lebih Minggu pagi banyak bekas botol minuman keras yang digeletakkan di taman-taman. Demikian juga dengan tata cara berpakaian, terutama pada musim panas (summer), pada umumnya pakain para wanita minor-minor, termasuk ketika mereka kuliah.

Kendati demikian,  ada hal yang positif, antara lain, adalah pada umumnya mereka  sangat menghormati para pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki yang akan melinatas di jalan yang tidak ada lampu tanda lalu lintas (traffic light), maka sopir akan menghentikan kendaraannya dan mempersilahkan pejalan kaki lewat. Mereka juga pada umumnya ramah dan perhatian (care) terhadap orang lain. Misalnya, apabila berpapasan dengan tetangganya di jalan, sekalipun orang asing, mereka akan menyapa dengan ucapan “hola” atau , apabila waktunya pagi hari, mereka akan mengucapkan “buenos días” (selamat pagi). Demikian juga kalau kita bertanya kepada mereka, maka mereka akan merespon, sepanjang bahasa yang kita gunakan bahasa yang mereka pahami (bahasa Spanyol). Pada umumnya para pelayan dan penjaga toko di Murcia hanya dapat berbahasa Spanyol. Beberapa kali Penulis mencoba berkomumkasi dengan menggunakan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak paham. Mereka baru paham  setelah Penulis  menggunakan bahasa Spanyol.

 


* Penulis adalah Dosen tetap Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang menjadi Teaching Staff di Universidad de Murcia, Spanyol dalam Program Erasmus Mundus.

RESENSI BUKU BERCINTA

Bercinta Gaya Islami

Thursday, 10 February 2011 21:53 Media Online Bhirawa

Resensi Buku:
Judul        : Seni dan Etika Bercinta Menurut al-Quran dan Hadis
Penulis      : Syamsurizal Yazid
Penerbit    : UMM Press, Malang
Cetakan    : Tahun 2010
Tebal         : 288 halaman
Peresensi   : Ahmad Fatoni
Pengajar Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang

Seksualitas adalah masalah universal yang reaksinya bisa bersifat lokal. Meski setiap orang sama dalam urusan kebutuhan biologis, tapi masing-masing berbeda dalam cara penyalurannya. Islam sebagai salah satu sumber nilai kehidupan tentunya juga memiliki tata cara tersendiri dalam perkara satu ini. Yang pasti, Islam tidak pernah memberangus hasrat seksual kaumnya. Bahkan Islam memberikan panduan lengkap agar seks tetap dapat dinikmati tanpa harus kehilangan ritme ibadahnya.
Karena bernilai ibadah itulah setiap hubungan seks dalam rumah tangga senyatanya dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Al-Hadis. Kata Rasulullah SAW, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Jawab beliau, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Demikian sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.”
Buku dari hasil penelitian kepustakaan ini memaparkan secara detil tentang seni bercinta (melakukan hubungan seksual) menurut kaca mata Islam. Sesuai judulnya, inti paparan buku ini membahas seni dan etika percintaan suami istri, baik sebelum (foreplay) maupun saat sedang (interplay) dan setelah bercinta (afterplay). Pemahaman soal ini sangat penting dalam rangka menciptakan relasi suami istri yang harmonis.
Foreplay artinya permainan pendahuluan atau disebut juga dengan istilah pemanasan sebelum bercinta sesungguhnya (intercourse). Di Islam, foreplay dikenal dengan istilah al-mula’abah yang berarti senda gurau dan cumbu rayu. Persiapan untuk bercinta bagi suami-istri mempunyai peranan penting dalam usaha membangkitkan syahwat yang hendak mengantar mereka mencapai puncak kepuasan (orgasme).
Adapun interplay merupakan acara inti dalam aktivitas seksual suami-istri. Di antaranya saling memberi kesempatan mencapai kepuasan, tidak bersuara gaduh, dan menutupi tubuh dengan kain selimut. Dalam etika interplay juga diuraikan bagaimana posisi bercinta dengan istri yang sedang hamil dan larangan melakukan hubungan intim lewat mulut (oral sex).
Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji.
Seorang suami usai menggauli istrinya, kemudian dia ingin menggaulinya yang kedua kali, maka dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Sehabis melakukan intercourse mereka diwajibkan mandi junub dengan cara menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Hikmah mandi junub adalah untuk membersihkan badan, menenangkan urat-urat syaraf, membuat otot-otot rileks dan mengembalikannya kepada kondisi semula.
Berapa kali sebaiknya suami-istri melakukan hubungan intim? Islam tidak menetapkan frekuensi seksual suami-istri. Pasangan suami-istri boleh melakukan seberapa banyak mereka kehendaki, sepanjang bukan dalam waktu-waktu yang terlarang. Hanya, segala sesuatu yang asalnya boleh dapat saja diharamkan jika dilakukan melampaui batas.
Mengutip Ibn Al-Qayyim al-Jauziyah, mengatakan bahwa melakukan hubungan seks yang berlebihan dapat melemahkan badan, membahayakan urat syaraf, menyebabkan lemah syahwat, sakit lumpuh, dan kejang-kejang, merabunkan mata dan menggerus seluruh kekuatan, mengikis kehangatan tubuh, dan memperlebar saluran-saluran di dalam tubuh yang bisa mengundang banyak penyakit.
Demikian, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), terbukti memiliki ajaran yang sangat seksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan. Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, termasuk masalah percintaan suami-istri, agar umatnya bisa tetap taat syariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya. ******

ARTIKEL TENTANG AHMADIYAH

Kewajiban MUI Meluruskan!

Syamsurizal Yazid
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencabut semua fatwa yang memandang paham dan aliran tertentu sebagai sesat. Aliansi antara lain beranggotakan KH Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Syafii Anwar, Ulil Abshar Abdalla, Pangeran Jatikusuma (penghayat Sunda Wiwitan), Romo Edi (Konferensi Wali Gereja Indonesia/KWI), dan Pendeta Winata Sairin (Persekutuan Gereja-gereja se-Indonesia/PGI). Mereka mengeluarkan pernyataan itu untuk menyikapi aksi kekerasan yang menimpa jemaah Ahmadiyah di Parung, Bogor, dan masih berlangsungnya ancaman terhadap anggota jemaah Ahmadiyah (Republika, Jumat, 29 Juli 2005).

Kewajiban MUI

Pada dasarnya, kalau ada di antara umat Islam yang menganut paham dan aliran yang secara prinsip dinilai menyimpang (sesat), menjadi kewajiban sebagian umat Islam yang lain untuk mengingatkan dan meluruskannya. Agar mereka kembali ke jalan yang benar sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Kendati demikian, Islam tetap melarang umatnya melakukan tindakan anarkis dan kekerasan dalam menyikapi dan menyelesaikan suatu masalah. Termasuk dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah terhadap orang yang berbeda paham dan aliran.

Keputusan MUI mengeluarkan fatwa pelarangan terhadap paham dan aliran dalam Islam yang dinilai sesat, khususnya Ahmadiyah , merupakan tindakan yang sangat tepat. Sebab MUI mempunyai kewajiban melindungi umat Islam Indonesia agar tidak terjerumus ke dalam aliran yang dinilai sesat tersebut. MUI sendiri tidaklah sembarangan mengeluarkan suatu fatwa, seperti dijelaskan dalam Pedoman Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Di samping berdasarkan

Alquran dan Sunnah Rasul yang mu’tabarah, juga melalui suatu prosedur panjang dan telaah mendalam. Kemudian disidangkan dan dikomparasikan dengan pendapat madzhab dan ulama. Ulil Abshar Abdalla dalam suatu acara dialog tentang Ahmadiyah di Metro TV, 18 Juli 2005, pukul 23.00, antara lain mengatakan bahwa seseorang tidak berhak menilai orang lain sesat. Sebab, kata dia, yang mengetahui kebenaran itu hanya Allah.

Memang, semua orang mengakui bahwa yang mengetahui kebenaran itu hanya Allah. Untuk itu, Allah sudah menurunkan wahyu berupa Alquran dan Hadits untuk menjadi pedoman dan patokan bagi manusia untuk menilai dan menetapkan suatu kebenaran. Sehingga manusia dapat membedakan antara yang hak dan yang batil.

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati dan mengembalikan perbedaan-perbedaan pendapat kepada Allah dan Rasul (QS surat an-Nisa’: 59). Sepanjang umat Islam berdoman dan berpatokan kepada kedua sumber pokok ajaran Islam itu dalam menilai dan memutuskan sesuatu, bukankah berarti berarti keputusan tersebut berasal dari Allah juga?

Alquran dan Hadits memang diturunkan untuk dipahami, dihayati, dan diaplikasikan dalam kehidupan. Ada aturan dan tata cara dalam menafsirkan Alquran. Ibnu Taimiyah menyatakan cara terbaik penafsiran Alquran adalah antara ayat dengan ayat. Kalau tidak ditemukan, penafsiran dilakukan antara ayat Alquran dengan Hadits –yang memang salah fungsinya adalah menjelaskan Alquran.

Kalau tidak ada juga, maka hendaklah ayat Alquran ditafsirkan dengan tafsiran para sahabat Nabi SAW, yang dianggap lebih memahami karena menyaksikan turunnya wahyu. Kalau tetap tidak ada, barulah ditafsirkan dengan menggunakan akal (ijtihad).

Bukan tafsir hawa nafsu

Kendati, dalam batas-batas tertentu seseorang dibolehkan memahami ayat dengan menggunakan akal, dia tidak boleh menafsirkan seenaknya. Apalagi menafsirkan dengan menuruti kehendak hawa nafsunya. Penafsiran tidak boleh bertentangan –terutama– dengan nash sarih dari ayat Alquran dan Hadits sahih serta ajaran-ajaran Islam lain yang sudah pasti kebenarannya. (al-Qawa’id al-Hisan li Tafsir Alquran; Kaidah-Kaidah Penafsiran Alquran, Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di).

Misalnya, kalau ada yang berpendapat bahwa shalat dhuhur boleh diringkas menjadi dua rakaat dengan alasan pada zaman modern orang-orang sudah ”super sibuk” (bukan karena alasan musafir atau alasan syar’i lainnya), maka ini adalah penafsiran yang keliru, sesat, dan menyesatkan. Sebab bertentangan dengan Hadits shahih. Contoh lainnya, kalau ada orang yang berpendapat bahwa akan ada nabi atau rasul lagi setelah Nabi Muhammad SAW, maka pendapat itu sesat dan menyesatkan. Sebab Alquran dan Hadits sahih telah jelas menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dan tidak akan ada lagi nabi atau rasul sesudah beliau.

Ditolak
Sejak pertama kali muncul di India, aliran Ahmadiyah telah ditolak dan ditentang keras oleh sebagian besar kaum Muslimin. S Abul Hasan Ali Nadwi dalam bukunya Qadianism; A Critical Study (1990), menegaskan perbedaan paham dan ajaran Ahmadiyah dengan kaum Muslimin pada umumnya, bukan seperti perbedaan madzhab dan paham yang berkaitan masalah furu’iyah (cabang). Tapi sudah menyangkut ajaran prinsip dan pokok. Terutama yang berkenaan dengan masalah akidah.

Karena Ahmadiyah dipandang dapat menyesatkan dan mendangkalkan akidah umat Islam, terutama mereka yang awam, maka penjajah Inggris yang berkuasa di India pada masa itu menyambut baik. Bahkan Inggris mendukung gerakan Ahmadiyah.

Abul Hasan Ali Nadwi menulis: Gerakan Qadiyani mencoba membangkitkan struktur kepercayaan dan praktik keagamaan baru yang berbeda dari Islam. Gerakan Qadiyani menyediakan kepada pengikutnya seorang nabi baru, loyalitas baru, misi keagamaan baru, pusat spiritual baru, tempat suci baru, ritual baru, serta pemimpin dan pahlawan baru. Salah satu bukti gerakan Ahmadiyah mempunyai ajaran bahwa masih ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad adalah apa yang dikatakan sendiri oleh Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah.

Dalam khotbahnya, seperti dikutip dalam Qadianism; A Critical Study, Mirza Ghulam Ahmad mengatakan,”Wahai kaum Muslimin, seorang nabi yang dikatakan Tuhan dalam Alquran akan muncul pada akhir zaman adalah aku. Datanglah. Berkumpullah di bawah benderaku. Jika anda tidak datang kepadaku, Tuhan tidak akan memaafkanmu. Dan pada hari pembalasan, anda akan dicampakkan ke dalam neraka.”

Saran Iqbal

Menyikapi reaksi keras penentangan kaum Muslimin terhadap aliran Ahmadiyah ini, Muhammad Iqbal (1930) memberi saran kepada pemerintah India untuk mengambil sikap tegas. Yaitu dengan menjadikan aliran Ahmadiyah sebagai satu komunitas tersendiri yang terpisah dari kaum Muslimin lainnya.

Lebih jelasnya, Allama Iqbal mengatakan: ”Menurut pendapatku, jalan keluar terbaik yang sebaiknya ditempuh pemerintah India adalah mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai komunitas terpisah [dari Islam], sehingga kaum Muslimin bisa mentoleransi keberadaan mereka sebagaimana [kaum Muslimin] mentoleransi agama lain.”

Apa yang disarankan Iqbal untuk menjadikan Ahmadiyah sebagai komunitas tersendiri di India mungkin tidak menjadi masalah. Sebab umat Islam di India merupakan penduduk minoritas. Masalahnya, bagaimana kalau hal ini diterapkan di suatu negara yang penduduknya mayoritas Islam?

Dengan demikian, keputusan MUI mengeluarkan fatwa pelarangan terhadap aliran Ahmadiyah merupakan tindakan tepat. Fatwa itu menyelamatkan para pengikut aliran Ahmadiyah agar tidak menjadi sasaran kemarahan sebagian kaum Muslimin yang menentangnya. Fatwa itu juga menyelamatkan kaum Muslimin, khususnya mereka yang awam, agar tidak terjerumus ke dalamnya.

Membiarkan aliran yang dinilai sesat, apalagi kalau sampai mencabut fatwa MUI, akan menimbulkan bahaya (mudharat) dan kerusakan (mafsadah) yang lebih besar bagi sebagian besar umat Islam. Baik karena penyesatan yang dilakukan Ahmadiyah atau kemarahan penentangnya. Bukankah menolak sesuatu yang akan menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar lebih baik dari pada mempertahankannya yang kemaslahatannya kecil (dar’ul mafaasid muqaddamun ala jalabil masalih)?

Tapi bagaimanapun, cara yang persuasif, dengan hikmah dan mauidzah hasanah (nasehat yang baik) dan dialog yang baik_seperti yang diperintahkan Allah di dalam Alquran surah an-Nahl ayat 125, merupakan cara terbaik yang harus dikedepankan. Dibandingkan dengan menggunakan cara anarkis dan kekerasan yang dilarang Islam. Lebih penting dari itu adalah mengembalikan persoalan ini kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Hadis sahih).

Wallahu a’lam bishawab (REPUBLIKA, Rabu, 10 Agustus 2005)

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

Mata Kuliah Tafsir

TAFSIR SURAT AL-FATIHAH

(Hukum membaca bismillah dan surat Al-Fatihah dalam shalat)

Penulis: Syamsurizal Yazid

بسم الله الرحمن الرحيم(1) الحمدلله ربّ العالمين (2)الرحمن الرحيم(3) مالك يوم الدّين(4)إيّاك نعبد وإيّاك نستعين(5)اهدناالصراط المستقيم (6)

صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولاالضّالّين (7)

Terjemahan

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. – Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. – Yang menguasai hari pembalasan. – Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. – Tunjukkanlah (kepada) kami jalan yang lurus. – (yaitu) jalan orang-orang yang (telah) Engkau berikan   nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[1]

Perbendaharaan Kata

- بسم = الإسم مشتق من السموّ، بمعنى الرفعة والعلوّ

- الله = اسم للذات  المقدّ سة، ذات الله جلّ وعلا، واجب الوجود، لايشاركه

فيه غيره

(Nama bagi Zat yang suci , Zat Allah yang Mulia dan Tinggi, wajib exist dan tidak ada satupun yang lain yang bersekutu dengan-Nya dalam masalah tersebut)

- الحمدلله = الحمد هو الثناء بالجميل على جهة التعظيم والتبجيل

- ربّ ا لعالمين = الربّ فى اللغة مصدر بمعنى التربية، وهى إصلاح شئون الغير، ورعاية أمره . والرّبّ مشتقّ من التربية فهو سبحانه وتعالى مد بّر لخلقه ومربّيهم ، ويطلق الربّ على معان وهى (المالك، والمصلح، والمعبود، والسيّد المطاع) نقول هذا ربّ الإبل، وربّ الدار أى مالكها

- العالمين = جمع عالم، والعالم اسم جنس لاواحد له من لفظه كالرهط والأنام

- الرحمن الرحيم = اسمان من أسمائه تعالى مشتقان من الرحمة، ومعنى الرحمن المنعم بجلائل النعم، ومعنى الرحيم المنعم بدقائقها. وقيل الرحيم خاصّ للمؤمنين (وكان بالمؤمنين رحيما)

- يوم الدّين = يوم الجزاء والحساب، أى أنّه سبحانه المتصرّف فى يوم الدّين . والدين فى اللغة الجزاء، ومنه قول عليه وسلّم : (إفعل ماشئت كما تدين تدان) أى كما تفعل تجزى

- إيّاك نعبد = نعبد نذلّ ونخشع ونستكين، والمعنى: لك اللّهمّ نذلّ ونخضع ونخصّك بالعبادة لأنّك المستحق لكلّ تعظيم وإجلال، ولا نعبد أحدا سواك

- وإيّاك نستعين = الإستعانة : طلب العون. والمعنى: إيّاك ربّنا نستعين على طاعتك وعبادتك فى أمورنا كلّها، فنحن لانستعين إلاّ بك

- إهدنا= فعل دعاء ومعناه: دلّنا دليلا على الصراط المستقيم، وأرشدنا إليه

- أنعمت عليهم = النعمة: ليّن العيش ورغده

- المغضوب عليهم = هم اليهود، لقوله تعالى( وباءوا بغضب من الله ) وقوله (من لعنه الله وغضب عليه وجعل منهم القردة والخنازير…)

- الضّا لّين = الضلال فى كلام العرب هو الذهاب عن سنن القصدوطريق الحقّوالإنحراف من النهج القويم. والمراد بالضّالّين : النصارى لقوله تعالى (قد ضلّ من قبل وأضلّوا كثيرا وضلّوا عن سوء السبيل).

Aspek Bacaan (qira’ah)

1.  قرأ الجمهور (الحمد لله) بضمّ  دال الحمد،وقرأ سفيان بن عيينة (الحمدلله) بالنصب، قال ابن اللأنبارى: يجوز نصب المصدر بتقدير أحمد الله. قال أبو حيّان: وقراءة الرفع أمكن فى المعنى، ولهذا أجمع عليها السبعة، لأنها تدل على ثبوت الحمد واستقراره لله تعالى.

2.  قرأ الجمهور (ربّ العالمين) بكسر الباء ، وقرأ زيد بن على (ربّ العالمين) بالنصب على المدح أى أمدح ربّ العالمين

3.  قرأ الجمهور (مالك يوم الدين) على وزن فاعل (مالك) وقرأ ابن كثير وابن عمر وأبوالدرداء (ملك) بفتح الميم مع كسر اللام. قال ابن الجوزى: قراءة (ملك) أظهر فى المدح، لأن كل ملك مالك وليس كل مالك ملكا.

4.  قرأ الجمهور (إيّاك نعبد) بضم الباء، وقرأ زيد بن على (نعبد) بكسر النون، وقرأ الحسن وأبو المتوكّل (إيّاك يعبد) بضمّ الياء وفتح الباء

5.  قرأ الجمهور (إهدناالصراط المستقيم) بالصاد وهى لغة قريش، وقرأ مجاهد  وابن محيض (السّراط) بالسّين على الأصل. قال الرّاء: اللغة الجيّدة بالصاد وهى اللغة الفصحى،وعامة العرب يجعلونها سينا، فمن قرأ بالسين فعلى أصل الكلمة، ومن قرأ بالصاد فلأنها أخفّ على اللسان.

Pengertian Global

Allah s.w.t. mengajari kita cara memuji dan mensucikan-Nya, yang maknanya: “Wahai para hamba-Ku kalau kamu ingin bersyukur dan memuji-Ku, maka katakanlah, yang artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta”, bersyukurlah atas kebaikan-Ku kepada kamu sekalian; Saya adalah Allah yang memiliki keagungan dan kemuliaan, yang Esa dalam mencipta; Tuhan semua manusia, jin dan malaikat dan Tuhan langit dan bumi; Saya Maha pengasih lagi Maha Penyayang yang rahmat-Nya luas, meliputi semua makhluk, kebaikan-Nya diberikan kepada semua manusia. Karena itu, pujian dan syukur hanya bagi Allah Tuhan semesta alam; Dia yang memberikan hidayah kepada makhluk-Nya untuk kebahagiaan di dunia dan akherat: Dialah Tuan yang tidak seorangpun  dapat menandingi  ketinggian derajat-Nya; Dialah Pemilik dan yang berkuasa memberikan  pembalasan dan perhitungan di Hari Kiamat nanti. Karena itulah, hanyalah kepada-Ku kamu sekalian mengabdi dan hanya kepada-Ku kamu semua memohon pertolongan; Dia yang menunjukkan jalan yang benar,  yaitu jalan yang penuh berkah dan kenikmatan yang pernah dikaruniakan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan beriman terdahulu, dan bukan jalan yang dimurkai-Nya dan bukan pula jalan yang sesat.

Penafsiran Ayat

1. بسم الله  maknanya “ Saya membaca dengan memohon pertolongan dengan  nama Allah”; soerang penulis ketika mengambil pena membaca bismillaah, yang maknanya: “Saya menulis dengan memohon pertolongan dengan nama Allah”;  orang yang akan makan ketika mulai makan membaca bismillaah, yang maknanya: “Saya makan dengan memohon pertolongan dengan nama Allah”. Begitulah seterusnya, setiap seseorang yang beriman akan mulai suatu pekerjaan dia akan membaca bismillaah, sebab pada hakekatnya kita hanya berikhtiar, tetapi yang menentukan berhasil dan tidaknya hanyalah Allah s.w.t. Bukti bahwa bahwa manusia tidak berdaya adalah tidak semua usaha yang dilakukannya berhasil. Karena itulah Allah s.w.t. mengajari apa yang semestinya dibaca ketika akan memulai suatu pekerjaan. Di dalam salah satu haditsnya, Rasulullah s.a.w. bersabda[2]:

كلّ أمر ذى بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر

Artinya:

Setiap urusan  penting yang tidak dimulai dengan (membaca) bismillaah, maka urusan tersebut terputus (tidak berkah).

2.   Masuknya alif dan laam (الحمد للّه ) untuk menunjukkan bahwa yang berhak dipuji hanya Allah semata, sebab Dialah yang memiliki sifat yang sempurna. Di samping itu hal tersebut merupakan isyarat bahwa  pujian tersebut merupakan hal yang  tetap dan terus bagi Allah.

3.   Faedah menyebutkan الرحمن الرحيم  setelah ربّ العالمين  karena kata الربّ  menunjukkan makna keangkuhan, ketinggian martabat, pemaksaan, dan sebagainya. Orang yang mendengarnya akan mengira bahwa berarti Allah itu Pemaksa, tidak menyayangi hamba-hamba-Nya, maka akan muncullah di dalam jiwanya perasaan takut, putus asa dan frustrasi. Karena itulah Allah meletakkan  الرحمن الرحيم     setelah ربّ العالمين  untuk menekankan bahwa Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

4.   Firman Allah: إيّاك نعبد وإيّاك نستعين menunjukkan bahwa sudah sepantasnya seorang hamba itu melaksanakan dulu kewajibannya sebelum memohon pertolongan kepada Allah s.w.t. Dan bukan menjadi orang yang hanya mau menuntut hak, tapi tidak mau melaksanakan kewajiban.

Kandungan Hukum

1.   Apakah بسم الله الرحمن الرحيم  merupakan salah satu dari ayat-ayat al-Qur’an?

Para Ulama sepakat bahwa  بسم الله الرحمن الرحيم  yang termaktub dalam surat an-Naml merupakan bagian dari ayat al-Qur’an. Ayat yang dimaksud adalah firman Allah  yang berbunyi  )     بسم الله الرحمن الرحيم   .(وإنّه من سليمان وإنّهHanya saja mereka berbeda pendapat apakah  بسم الله الرحمن الرحيم  ini termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah dan merupakan awal setiap surat atau tidak?

Menurut madzhab Syafi’i bahwa بسم الله الرحمن الرحيم  termasuk salah satu ayat dari surat al-Fatihah dan merupakan awal setiap surat al-Qur’an.  Alasan mereka ini adalah Pertama: Hadits Abu Hurairah r.a. [3]:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنِ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِي

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Umar berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b dari al-Maqburi dari Abu  Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda: “Alhamdulillaah adalah induk al-Qur’an, induk al-Kitab dan assab’u al-matsaani.[4]

Kedua: Hadits Ibnu Abbas r.a.[5]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ الضَّبِّيُّ حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ حَمَّادٍ عَنْ أَبِي خَالِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْتَتِحُ صَلَاتَهُ بْ بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdah adh-Dhibbi (berkata): Telah menceritakan kepada kami al-Mu’tamir bin Sulaiman berkata: Telah menceritakan kepada saya Ismail bin Hammad dari Abu Khalid dari Ibnu Abbas r.a. berkata: “Bahwa Nabi s.a.w. membuka(memulai) shalatnya dengan (membaca) bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ketiga: Hadits Anas r.a.[6] :

أنّه سئل عن قراءة رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فقال: كانت قراءته مدّا…ثمّ قرأ ( بسم الله الرحمن الرحيم .  الحمدلله ربّ العالمين الرحمن الرحيم.  مالك يوم الدّين…)

Artinya:

Bahwasanya ia ditanya tentang bacaan Rasulullah s.a.w., maka katanya: “Bacaannya panjang(dengan mad)…kemudian dia membaca (Bismillaahirrahmanirrahiim. Alhamdulillaahi Rabbi al-‘aalamiin. Ar-Rahmaani ar-Rahiim. Maaliki yaumi ad-Diin…)”.

Keempat: Hadits Anas r.a. [7]:

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنِ الْمُخْتَارِ بْنِ فُلْفُلٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا يُرِيدُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا لَهُ مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَزَلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ( إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ )

Artinya:

Telah memberitakan kepada kami Ali bin Hujri berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari al-Mukhtar bin Fulful dari Anas bin Malik berkata: Ketika berada di antara kami, Nabi s.a.w. menginginkan (sesuatu), yang secara tiba-tiba beliau mengantuk sesaat. Kemudian beliau mengangkat kepalanya sembari tersenyum. Maka kamipun bertanya: Apa yang menyebabkan kamu tertawa wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tadi turun kepada saya satu surat (al-Qur’an) Bismillaahirrahmaanirrahiim. Innaa a’thainan ka al-kautsar. Fashalli lirabbika wanhar innaasyaniaka huwa al-abtar”

Menurut mereka hadits ini menunjukkan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم merupakan ayat setiap surat al-Qur’an, sebab Rasulullah s.a.w. membacanya dalam surat al-Kautsar di atas.

Kelima: Mereka juga menggunakan alasan yang didasarkan pada akal bahwa semua Mushaf al-Qur’an mencantumkan بسم الله الرحمن الرحيم di setiap awal suratnya kecuali pada surat al-Bara’ah atau at-Taubah.  Ini merupakan bukti bahwa بسم الله الرحمن الرحيمadalah  bagian dari setiap surat.

Sedangkan menurut madzhab Malik بسم الله الرحمن الرحيم bukan merupakan bagian ayat dan bukan juga termasuk salah satu ayat al-Fatihah, melainkan hanya untuk tabarruk saja.  Alasan mereka adalah:

Pertama: Hadits Aisyah r.a.[8] :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ ( الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )

Artinya:

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. membuka (memulai)  shalatnya dengan takbir dan membaca (alhamdulillaahi Rabbi al-alamin).

Kedua: Hadits Anas r.a.[9] :

عَنْ أَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوا يَسْتَفْتِحُونَ بِ ( الْحَمْد لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )

Artinya:

Dari Anas bin Malik r.a. berkata: “ Saya (pernah) shalat di belakang Nabi s.a.w., Abubakar, Umar dan Utsman, mereka memulainya dengan (membaca) (alhamdulillaahi Rabi al-alamin)”.

Ketiga: Alasan yang membuktikan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم bukan ayat dari surat al-Fatihah adalah hadits Abu Hurairah r.a[10]:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ ( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ ( مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ) قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ ( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ) قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. bersabda: “ Siapa yang mengerjakan shalat tidak membaca ummu al-Qur’an, maka shalatnya khidaaj, beliau mengatakannya sebanyak tiga kali, (yaitu) tidak sempurna. Dikatakan pada Abu Hurairah r.a. bahwa kami berada di belakang imam, lalu katanya:  Bacalah (al-Fatihah) di dalam hatimu, sebab saya mndengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Allah berfirman: “Saya telah membagi shalat antara Saya dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Bagi hamba-Ku apa yang dimintanya. Kalau hamba tersebut mengucapkan (Alhamdulillaahi Rabbi al-alamin), Allah bekata: Hamba-Ku memujiku; Kalau hamba tersebut mengucapkan (Ar Rahmaani ar-Rahiim), maka Allah berkata: Hamba-Ku memuji-Ku; Kalau hamba tersebut mengucapkan (Maaliki yaumi ad-Diin), maka Allah berkata: Hamba-Ku memuliakan-Ku; Kalau hamba tersebut mengucapkan (Iyyaaka nabudu wa iyyaaka nastain), maka Allah berkata: Ini antara Saya dengan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang diminta; Kalau hamba tersebut mengucapkan (Ihdinaa ash-shiraatha al-mustaqim shiraatha al-ladzina an’amta alaihim ghairi al-maghdubi alaihim walaa adh-adhallin), maka Allah berkata: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta”.

Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Allah s.w.t. dengan (قسمت الصلاة)   adalah al-Fatihah. Allah s.w.t. menamakan al-Fatihah dengan shalat, karena shalat tidak sah tanpa membaca al-Fatihah di dalamnya. Kalau seandainya al-basmalah termasuk salah satu ayat al-Fatihah, maka pastilah disebutkan dalam hadits qudsi di atas.

Keempat: Kalau seandainya بسم الله الرحمن الرحيم bagian dari surat al-Fatihah, maka pastilah akan ada pengulangan pada الرحمن الرحيم , sehingga akan menjadi seperti ini بسم الله الرحمن الرحيم.الحمدلله ربّ العالمين الرحمن الرحيمHal ini tentu mustahil .

Menurut Imam al-Qurthubi yang benar dari pendapat-pendapat di atas adalah pendapat Imam Malik, karena al-Qur’an tidak mungkin ditetapkan dengan hadits-hadits ahad, melainkan harus ditetapkan dengan dalil yang mutawatir dan qath’i , yang tidak tidak diperselisihkan.[11]

Menurut Ibnu al-Arabi: “Sudah cukup sebagai bukti bagi anda yang membuktikan kalau بسم الله الرحمن الرحيم   bukan bagian dari al-Qur’an, yaitu adanya perbedaan pendapat manusia tentang masalah tersebut. Sedangkan al-Qur’an tidak mungkin ada perselisihan. Hadits-hadits yang shahih yang tidak ada cacat padanya yang menyatakan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم  bukan merupakan bagian dari al-Qur’an dan bukan pula salah satu ayat al-Fatihah, kecuali yang ada di surat an-Naml saja, sudah merupakan bukti atas kebenaran hal tersebut… Sesungguhnya madzhab kami mendukung pendapat Malik ini, karena pendapat inilah yang logis dan masuk akal. Di samping itu bahwa di Masjid Nabawi di  Madinah sudah  banyak masa yang dilalui, sejak dari masa Rasulullah s.a.w sampai masa Imam Malik,  tidak seorangpun di sana membaca بسم الله الرحمن الرحيم  (dalam shalat) sebagai aplikasi mengikuti sunnah Rasul”.[12]

Adapun menurut madzhab Hanafi  بسم الله الرحمن الرحيم   merupakan salah satu ayat yang sempurna dari al-Qur’an, diturunkan sebagai pemisah antara satu surat dengan surat lainnya dari al-Qur’an, tapi bukan merupakan ayat dari surat al-Fatihah. Alasan mereka adalah:

Pertama: bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   ditulis di dalam Mushaf menunjukkan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   adalah bagian dari al-Qur’an, tetapi itu tidak menunjukkan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   termasuk bagian ayat dari setiap surat al-Qur’an. Hadits-hadits yang ada yang menunjukkan بسم الله الرحمن الرحيم   tidak perlu dibaca keras di dalam shalat bersama surat al-Fatihah menunjukkan bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   bukan bagian dari surat al-Fatihah.

Kedua: Apa yang diriwayatkan dari para Sahabat yang mengatakan:

كنّا لا نعرف انقضاء السورة حتّى تنزل (بسم الله الرحمن الرحيم   )

Artinya:

Kami tidak mengenal pemutusan (pemisahan) surat sehingga turun (Bismillaahirrahmaahirrahiim).

Dan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.[13] :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِيُّ وَابْنُ السَّرْحِ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قُتَيْبَةُ فِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعْرِفُ فَصْلَ السُّورَةِ حَتَّى تَنَزَّلَ عَلَيْهِ بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ السَّرْحِ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Said, Ahmad bin Muhammad dan Muhammad al-Marwazi dan Ibnu as-Sarhi, dengan mengatakan: Telah bercerita pada kami Sufyan dari Amru dari Said bin Jubair. Berkata Ibnu Qutaibah dalam masalah ini dari Ibnu Abbas r.a. yang berkata: “Rasulullah s.a.w. tidak mengenal pemisahan surat, sehingga turun Bismillaahirrahmaanirrahiim. Lafadz hadits ini dari Ibnu as-Sarhi”.

Al-Jashshash berkata bahwa yang diperselisihkan adalah apakah  بسم الله الرحمن الرحيم   termasuk ayat dari surat al-Fatihah atau tidak. Para Qurra’ Kufah menganggap بسم الله الرحمن الرحيم   masuk dari ayat surat al-Fatihah, tetapi para Qurra’ Bashrah tidak memasukkannya sebagai bagian dari surat al-Fatihah. Menurut Imam Syafi’i ia merupakan bagi dari surat al-Fatihah, kalau seseorang tidak membacanya dalam shalat, maka shalatnya harus diulangi. Menurut Abu al-Hasan al-Kurkhi (guru al-Jashshash) tidak dibaca keras dalam shalat, ini menunjukkan bahwa ia bukan bagian dari surat al-Fatihah. Imam Syafi’i mengira bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   bagian dari setiap surat al-Qur’an, padahal tidak ada seorangpun sebelumnya yang berpendapat seperti itu, karena perbedaan yang terjadi antara para Salaf pada apakah بسم الله الرحمن الرحيم   termasuk bagian dari surat al-Fatihah atau tidak, dan tidak seorangpun di antara mereka yang memasukkan بسم الله الرحمن الرحيم   sebagai salah satu ayat setiap surat al-Qur’an. [14]

2.   Apa hukum membaca بسم الله الرحمن الرحيم   dalam shalat?

Fuqaha’ berbeda pendapat mengenai membaca بسم الله الرحمن الرحيم   dalam shalat.

Imam Malik melarang membaca بسم الله الرحمن الرحيم   dalam shalat fardhu, baik dengan keras atau pelan. Tidak boleh juga dibaca  pada saat membaca surat al-Fatihah dan surat-surat yang lain dari al-Qur’an. Hanya saja beliau membolehkan membacanya dalam shalat sunnah.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa بسم الله الرحمن الرحيم   dibaca sirri (tidak keras) bersama al-Fatihah pada setiap rakaat dalam shalat. Dan bagus kalau dibaca setiap membaca surat.

Menurut Imam Syafi’i orang yang shalat wajib membaca بسم الله الرحمن الرحيم   dengan keras pada shalat yang ayat-ayat harus dibaca keras, dan dibaca sirri dalam shalat yang bacaannya harus dibaca sirri.

Adapun Ahmad bin Hanbal orang shalat disunnatkan membacanya sirri dan tidak disunnatkan membacanya keras.

Adanya perbedaan pendapat ini disebabkan adanya perbedaan pendapat mereka apakah   بسم الله الرحمن الرحيم    termasuk ayat dari surat al-Fatihah dan bagian awal dari setiap surat-surat al-Qur’an atau tidak? Hal ini sudah kita bahas dalam pembahasan terdahulu.

3.   Apakah surat al-Fatihah wajib dibaca dalam shalat?

Dalam hal ini ada dua pendapat tentang hukum membaca surat al-Fatihah dalam shalat.

Madzhab ats-tsauri dan Abu Hanifah berpendapat bahwa sah shalat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah, sebab yang wajib itu secara mutlak adalah membaca ayat-ayat al-Qur’an dan minimal tiga ayat yang pendek atau panjang. Alasan mereka ini, antara lain, adalah berasal dari al-Qur’an dan Sunnah.

Pertama: Alasan yang berasal dari al-Qur’an adalah firman Allah s.w.t.[15] :

فا قرأوا ما تيسّر من القرآن

Artinya:

Bacalah olehmu sekalian apa yang mudah dari (ayat-ayat) al-Qur’an

Menurut mereka ayat ini menunjukkan bahwa yang wajib itu (bagi orang shalat) membaca apa yang dianggapnya mudah  dari ayat-ayat al-Qur’an, karena ayat yang turun tentang bacaan shalat adalah[16]:

إن ربّك يعلم أنّك تقوم أدنى من ثلثى الليل …..فا قرأوا ما تيسّر من القرآن

Artinya:

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam…maka bacalah olehmu  apa yang mudah dari al-Qur’an.

Tidak ada perbedaan bahwa hal ini berkenaan dengan shalat pada waktu malam, karena itulah sudah umum bagi mereka membaca بسم الله الرحمن الرحيم    pada shalat malam dan shalat-shalat sunnat yang lain  serta dalam shalat fardhu. Hal ini didasarkan pada makna umum dari firman Allah di atas.[17]

Kedua: Alasan dari hadits, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah[18]:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasnya Rasulullah s.a.w. masuk masjid, lalu masuk pula seorang laki-laki, kemudian ia mengerjakan shalat. Setelah selesai mengerjakan shalat, laki-laki itu datang kepada Nabi s.a.w. dan memberi salam. Nabi s.a.w. membalas salamnya. Kemudian beliau berkata: “Kerjakan lagi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum mengerjakan shalat”. Ia mengerjakan kembali shalatnya sebagaimana semula. Lalu ia datang kepada Nabi s.a.w. dan memberi salam. Beliau mengatakan:”Ulangilah shalatmu, sebab sesungguhnya kamu belum shalat”. (Diucapkan beliau) sampai tiga kali. Laki-laki itu berkata: “Demi yang mengutus tuan membawa kebenaran, saya tidak dapat melakukan kecuali dengan cara yang tadi. Karena itulah ajarilah saya”. Kemudian beliau  berkata:” Kalau kamu berdiri untuk mengerjakan shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah yang mudah, kemudian ruku’lah sampai kamu tenang(diam sejenak)  dalam ruku’tersebut, dan bangkitlah sampai engkau berdiri lurus. Lalu sujudlah  sampai kamu diam sejenak dalam sujud itu, lalu bangkitlah dari sujud, kemudian bangkitlah dari sujud, sampai engkau diam sejenak dalam duduk itu. Kemudian sujudlah kembali sampai kamu diam sejenak dalam sujud itu. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.

Mereka mengatakan bahwa hadits Abu Hurairah di atas yang mengajari laki-laki shalat menunjukkan pada pilihan (chioce)   ) (  فا قرأوا ما تيسّر من القرآن Ini merupakan argumentasi yang memperkuat pendapat madzhab mereka dan menunjukkan bolehnya membaca ayat apa saja dari al-Qur’an dalam shalat.

Sedangkan mayoritas Fuqaha ( Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad)  berpendapat bahwa membaca surat al-Fatihah syarat sahnya shalat. Siapa yang meninggalkannya—padahal dia mampu—maka shalatnya tidak sah. Alasan mereka adalah:

Pertama: Hadits Ubadah bin ash-Shamit, yaitu sabda Rasulullah s.a.w.[19]:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِاللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah (yang ) berkata: Telah berkata kepada kami az-Zuhri dari Mahmud bin ar-Rabi’ dari Ubadah bin ash-Shamit: Bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah”.

Kedua: Hadits Abu Hurairah r.a. [20]:

عن أبى هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ

Artinya:

Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w. :” Siapa yang mengerjakan shalat yang tidak membaca al-Fatihah, maka shalatnya tidak sempurna, tidak sempurna dan tidak sempurna”.

Ketiga: Hadits Abu Said al-Khudri [21]:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ أُمِرْنَا أَنْ نَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَمَا تَيَسَّرَ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid ath-Thayyalisi (yang berkata) telah bercerita kepada kami Hammam dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Abu Said (yang) berkata: “Kami diperintahkan untuk membaca al-Fatihah dan apa-apa (ayat-ayat) yang mudah”.

Mereka (para madzhab di atas) mengatakan bahwa atsar-atsar di atas semuanya menunjukkan wajib membaca surat al-Fatihah (dalam shalat). Sabda Rasulullah s.a.w.

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ menunjukkan tidak sahnya shalat tanpa membaca al-Fatihah. Begitu pula sabda beliau :    فَهِيَ خِدَاجٌ yang diucapkan beliau sampai tiga kali menunjukkan  rusaknya shalat yang tidak membaca surat al-Fatihah. Karena itulah wajib membaca al-Fatihah dalam shalat dan merupakan syarat sahnya shalat.

Dari uraian di atas tentang perbedaan pendapat di antara dua golongan di atas, jelaslah bahwa pendapat mayoritas Fuqaha’ lah yang mu’tamad, sebab argumentasi yang digunakan sangat kuat.

4.   Apakah ma’mum juga ikut membaca (al-Fatihah)?

Para Fuqaha’ sepakat bahwa ma’mum yang akan ikut shalat kalau mendapatkan imam sedang rukuk, maka bacaan al-Fatihahnya sudah ditanggung oleh bacaan imamnya, disebabkan karena konsensus mereka atas gugurnya bacaan al-Fatihahnya dari  ma’mum karena rukuknya imam. Tetapi kalau ia mendapatkan imam sedang berdiri, maka apakah ma’mum harus membaca al-Fatihah atau cukup dengan bacaan imam? Dalam masalah yang terakhir ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan Fuqaha.

Menurut Imam Syafi’i dan Ahmad  bahwa ma’mum wajib membaca al-Fatihah, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah. Alasan mereka ini adalah hadits yang terdahulu:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya:

Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah

Hadits ini maknanya umum, bukan hanya ditujukan kepada imam, tapi juga including ma’mum, baik itu dalam shalat sirriyah maupun jahriyah. Orang yang tidak membaca al-Fatihah dalam shalatnya, maka shalatnya tidak sah.

Sedangkan menurut Imam Malik bahwa kalau shalat yang dilaksanakan adalah shalat sirriyah, maka ma’mum  perlu membaca al-Fatihah, tetapi ia (ma’mum)  tidak perlu membacanya dalam shalat jahriyah. Alasannya bahwa ma’mum harus membaca al-Fatihah dalam shalat sirriyah didasarkan pada hadits tersebut di atas. Dan alasan tidak dibolehkan ma’mum membaca al-Fatihah dalam shalat jahriyah adalah firman Allah s.w.t.[22] :

وإذا قرئ القرآن فاستمعواله وأنصتوا لعلّكم ترحمون

Artinya:

Kalau al-Qur’an itu dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu sekalian mendapat rahmat.

Imam al-Qurthubi meriwayatkan dari Imam Malik bahwa ma’mum  tidak membaca sedikitpun dari ayat-ayat al-Qur’an dalam shalat jahriyah. Sedangkan dalam shalat sirriyah, dia wajib membaca al-Fatihah. Kalau tidak, maka shalatnya tidak sah.

Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ma’mum tidak wajib membaca al-Fatihah, baik dalam shalat sirriyah maupun jahriyah. Alasannya:

Pertama: Firman Allah s.w.t. dalam al-Qur’an:

وإذا قرئ القرآن فاستمعواله وأنصتوا لعلّكم ترحمون

Kedua: Hadits dari Jabir r.a. [23]:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ جَابِرٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad, (yang berkata) telah bercerita kepada kami Ubaidullah bin Musa dari al-Hasan bin Shaleh dari Jabir dari Abu az-Zubair dari Jabir berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w. :” Siapa yang mempunyai imam (imam shalat), maka bacaan imam sudah merupakan bacaannya”.

Ketiga: Hadits Rasulullah s.a.w. [24]:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد و سَمِعْت أَنَا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad (yang) berkata: Telah berkata Abdullah bin Ahmad: Saya sendiri sudah mendengar dari Abdullah bin Muhammad bin Abu Syaibah (yang) berkata: Telah bercerita kepada kami Abu Khalid al-Ahmar dari Ibnu Ajalan bin Zaid bin Aslam dari Abu shaleh dari Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w. :” Imam itu dijadikan untuk diikuti (perbuatannya), kalau dia bertakbir, maka hendaklah kamu bertakbir dan kalau dia membaca, maka hendaklah kamu diam (mendengarkannya)”.


[1] Al-Qur’an, surat al-Fatihah, ayat 1 – 7.

[2] Ahmad Abdurrahman al-Banna الفتح الربّانى لترتيب مسند الإمام أحمد بن حنبل الشيبانىDaaru Ihyaa at-Turats al-Arabi, Beirut, t.th., kitab baaqi musnad al-muktsirin, hadits nomor 8355

[3] Hadits riwayat Ahmad (Ahmad Abdurrahman al-Banna: op.cit., kitab Baaqi Musnad al-Muktsirin, hadits nomor 9414)

[4] Istilah   -السبع المثانى yang merupakan salah satu nama surat al-Fatihah—artinya tujuh yang  diulang-ulang, karena jumlahnya ayatnya ada tujuh dan dibaca dalam shalat secara berulang-ulang.

[5] Hadits riwayat at-Tirmidzi (  Sunan at-Tirmidzi,  kitabu ash-Shalat, hadits nomor 228. )

[6] Hadits dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari Anas, dan kata ad-Daaru Quthni: sanadnya shahih (Muhammad Ali ash-Shabuni: من القرآن روائع البيان تفسير آيات الأحكام Kulliyaati asy-Syariah  wa ad-Diraasaat  al-Islamiyah, Makkah al-Mukarramah, jilid 1, hal. 48.

[7] Hadits riwayat Muslim, an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah (Sunan at-Tirmidzi, kitab Tafsir al-Qur’an, hadits nomor: 894 dan Imam an-Nawawi: Shahih Muslim bisyarhi al-Imam an-Nawawi. Daaru al-Fikr, Beirut, 1981, kitabu ash-shalat, hadits nomor 608)

[8] Hadits riwayat Muslim (Shahih Muslim, kitabu ash-shalat, hadits nomor 768

[9] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim (Imam an-Nawawi: op.cit.,, kitabu ash-shalat, hadits nomor 606

[10] Hadits riwayat Muslim (Shahih Muslim, kitab ash-shalat, hadits nomor 598

[11] Lihat: Qurthubi, al-, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari : الجامع لأحكام القرآن.

Daar al-Kutb, 1967, jilid 1, hal. 93

[12] Lihat:  Ibnu al-Arabi: أحكام القرآن . Isa al-Halabi, 1967, cetkan kedua, jilid 1, hal, 20

[13] Abu Daud:  سنن أبى داود Daaru Ihyaa as-Sunnah an-Nabawiyah, t.th., kitabu ash-shalat, hadits nomor 669

[14] Lihat:Al- Jashshash  Abubakar Ahmad Ar-Razi:  أحكام القرآن Daaru al-Fikr, Beirut, 1993, jilid 1, hal. 9-11

[15] Al-Qur’an, surat al-Muzammil, ayat 20.

[16] Ibid.

[17] Lihat: Al-Jashshash: op.cit., jilid 1, hal. 18.

[18] Hadits riwayat Bukhari (Ahmad bin Ali bin Hajar al-Atsqalani: فتح البرى بشرح صحيح البخارى . Mu’assasah Manahilu al-Irfan, Beirut, t..th, kitab al-adzaan, hadits nomor 751

[19] Hadits riwayat as-Sittah (perawi berenam) kecuali Malik (Fakhu al-Baari, kitab al-adzaan, hadits nomor 714)

[20] Hadits riwayat Muslim, Abu Daud,  Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah (Sunan Abu Daud: kitab ash-shalat, hadits nomor 698. الخداج artinya kurang atau tidak sempurna (Lihat Lisaanu al-Arab oleh Ibnu Mandzur)

[21] Hadit riwayat Abu Daud (Sunan Abu Daud: kitabu  ash-shalat, hadits nomor 695).

[22] Al-Qur’an, surat al-A’raf, ayat 204.

[23] Ibnu Majah: Sunan Ibnu Majah. Daaru Ihya’u at-turats al-Arabi, kitab iqaamati ash-shalat wa as-Sunnah fiha, hadits nomor 840.

[24] Hadits riwayat Ahmad dan an-Nasa’i (Al-Fathu ar-Rabbaani: kitab baaqi musnad al-muktsirin, hadits nomor 9069

PUISI PAK HABIBIE UNTUK AL-MARHUMAH IBU HASRI AINUN HABIBIE

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam
diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa
setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong
melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau
gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau
ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga
aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

selamat jalan sayang,

cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,

calon bidadari surgaku ….

Dikutip dari: gontorians@yahoogroups.com

INFO BUKU

SENI DAN ETIKA BERCINTA MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIS

(Cetakan Kedua)

Ada dua tujuan pokok pernikahan, yaitu: prokreasi (menghasilkan keturunan) dan rekreasi (memperoleh kesenangan dan kebahagiaan).  Dalam rangka tujuan itulah percintaan suami-istri perlu dilandasi dengan seni dan etika.  Buku yang mendapatkan penghargaan dari Diknas ini memuat tentang seni dan etika bercinta menurut Al-Qur’an dan Hadis. Dalam cetakan kedua ini ada tambahan khusus (bab III), yaitu:  ”Manajemen Konflik antar suami-istri”  yang membahas bagaimana cara memanaj dan menyelesaikan konflik-yang terjadi antara suami-istri.  Buku yang diterbitkan oleh UMM Press ini baik dibaca oleh calon penganten maupun suami-istri dalam rangka mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

Prof. Dr. M. Amien Rais: Pluralisme Kebablasan!

Friday, 19 March 2010 15:24

 

Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Tidak ada gunanya shalat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan

Hidayatullah. com—Pluralisme agama masih menjadi sesuatu yang menarik diperdebatkan. Pluralisme, yang berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda,  lantas dipahami bahwa semua agama adalah sama. Pendapat ini kemudian ditolak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan kalangan Islam lain. Tapi apa yang salah dengan Pluralisme Agama? “Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus,” ujar Prof Dr Amien Rais.
Baca pikiran Pluralisme Agama oleh Amien Rais. Wawancara ini dikutip dari Majalah Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Edisi Maret 2010.

Apa pendapat Anda mengenai aliran pluralisme?
Akhir-akhir ini saya melihat istilah pluralisme yang sesungguhnya indah dan anggun justru telah ditafsirkan secara kebablasan. Sesungguhnya toleransi dan kemajemukan telah diajarkan secara baku dalam Al-Quran. Memang Al-Quran mengatakan hanya agama Islam yang diakui di sisi Allah, namun koeksistensi atau hidup berdampingan secara damai antar-umat beragama juga sangat jelas diajarkan melalui ayat, lakum diinukum waliyadin” (Bagiku agamaku dan bagimu agamamu). Dalam istilah yang lebih teknis, wishfull coexistent among religions, atau hidup berdamai antarumat beragama di muka bumi.


Adakah yang keliru dari aliran pluralisme?

Nah, karena itu tidak ada yang salah kalau misalnya seorang Islam awam atau seorang tokoh Islam mengajak kita menghormati pluralisme. Karena tarikh Nabi sendiri itu juga penuh ajaran toleransi antarberagama. Malahan antar-umat beragama boleh melakukan kemitraan di dalam peperangan sekalipun. Banyak peristiwa di zaman Nabi ketika umat Nasrani bergabung dengan tentara Islam untuk menghalau musuh yang akan menyerang Madinah.

Jadi apa yang dibablaskan?
Saya prihatin ada usaha-usaha ingin membablaskan pluralisme yang bagus itu menjadi sebuah pendapat yang ekstrim, yaitu pada dasarnya mereka mengatakan agama itu sama saja. Mengapa sama saja? Karena tiap agama itu mencintai kebenaran. Dan tiap agama mendidik pemeluknya untuk memegang moral yang jelas dalam membedakan baik dan buruk. Saya kira kalau seorang muslim sudah mengatakan bahwa semua agama itu sama, maka tidak ada gunanya shalat lima waktu, bayar zakat, puasa Ramadhan, pergi haji, dan sebagainya.

Karena agama jelas tidak sama. Kalau agama sama, banyak ayat Al-Quran yang harus dihapus. Nah, kalau sampai ajaran bahwa “semua agama sama saja” diterima oleh kalangan muda Islam; itu artinya, mereka tidak perlu lagi shalat, tidak perlu lagi memegang tuntunan syariat Islam. Kalau sampai mereka terbuai dan terhanyutkan oleh pendapat yang sangat berbahaya ini, akhirnya mereka bisa bergonta-ganti agama dengan mudah, seperti bergonta-ganti celana dalam atau kaos kaki.

Apakah kebablasan pluralisme karena faktor kesengajaan atau rekayasa?
Saya kira jelas sekali adanya think tank atau dapur-dapur pemikiran yang sangat tidak suka kepada agama Allah, kemudian membuat bualan yang kedengarannya enak di kuping: semua agama itu sama. Jika agama itu sama, lantas apa gunanya ada masjid, ada gereja, ada kelenteng, ada vihara, ada sinagog, dan lain sebagainya.

Yang dimaksud dengan think-tank ?
Saya yakin think tank itu ada di negara-negara maju yang punya dana berlebih, punya kemewahan untuk memikirkan bagaimana melakukan ghazwul fikri (perang intelektual terhadap dunia Islam). Misalnya, kepada dunia Islam ditawarkan paham lâ diniyah sekularisme yang menganggap agama tidak penting, termasuk di dalamnya pluralisme, yang kelihatannya indah, tapi ujung-ujungnya adalah ingin menipiskan akidah Islam supaya kemudian kaum muslim tidak mempunyai fokus lagi. Bayangkan kalau intelektual generasi muda Islam sudah tipis imannya, selangkah lagi akan menjadi manusia sekuler, bahkan tidak mustahil mereka menjadi pembenci agamanya sendiri.

Sepertinya aliran pluralisme itu sudah masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, pendapat Anda?

Kalau sampai aliran pluralisme masuk ke kalangan muda Muhammadiyah, ini musibah yang perlu diratapi. Oleh karena itu, saya menganjurkan sebelum mereka membaca buku-buku profesor dari Amerika dan Eropa, bacalah Al-Quran terlebih dahulu. Saya sendiri yang sudah tua begini, 66 tahun, sebelum saya membaca buku-buku Barat, baca Al-Quran dulu. Karena orang yang sudah baca Al-Quran, dia akan sampai pada kesimpulan bahwa berbagai ideologi yang ditawarkan oleh manusia seperti mainan anak-anak yang tidak berbobot. Jika meminjam istilah Sayyid Quthb, seorang yang duduk di bawah perlindungan Al-Quran ibarat sedang duduk di bukit yang tinggi, kemudian melihat anak-anak sedang bermain-main dengan mainannya. Orang yang sudah paham Al-Quran akan bisa merasakan bahwa ideologi yang sifatnya man-made, buatan manusia, itu hanya lucu-lucuan saja. Hanya menghibur diri sesaat, untuk memenuhi kehausan intelektual ala kadarnya. Setelah itu bingung lagi.

Kenapa paham pluralisme itu bisa masuk ke kalangan muda Muhammadiyah? Apa karena Muhammadiyah terlalu terbuka atau karena tidak adanya sistem kaderisasi?

Hal ini perlu dipikirkan oleh pimpinan Muhammadiyah. Saya melihat, banyak kalangan muda Muhammadiyah yang sudah eksodus. Kadang-kadang masuk ke gerakan fundamentalisme, tapi juga tidak sedikit yang masuk Islam Liberal. Islam yang sudah melacurkan prinsipnya dengan berbagai nilai-nilai luar Islam. Hanya karena latah. Karena ingin mendapatkan ridho manusia, bukan ridho Ilahi. Oleh karena itu, lewat majalah Tabligh, saya ingin mengimbau kepada anak-anak saya, calon-calon intelektual Muhammadiyah, baik putra maupun putri, agar menjadikan Al-Quran sebagai rujukan baku . Saya pernah tinggal di Mesir selama satu tahun. Saya pernah diberitahu oleh doktor Muhammad Bahi, seorang intelektual Ikhwan, ketika saya bersilaturahmi ke rumah beliau, beliau mengatakan, “Hei kamu anak muda, kalau kamu kembali ke tanah airmu, kamu jangan merasa menjadi pejuang Muslim kalau kamu belum sanggup membaca Al-Quran satu juz satu hari.” Waktu itu saya agak tersodok juga, tetapi setelah saya pikirkan, memang betul. Kalau Al-Quran sebagai wahyu ilahi yang betul-betul membawa kita kepada keselamatan dunia-akhirat, kita baca, kita hayati, kita implementasikan, kehidupan kita akan terang benderang. Tapi kalau pegangan kita pada Al-Quran itu setengah hati. Kemudian dikombinasikan dengan sekularisme, dengan pluralisme tanpa batas, dengan eksistensialisme, bahkan dengan hedonisme, maka kehidupan kita akan rusak. Sehingga betul seperti kata pendiri Muhammadiyah dalam sebuah ceramah beliau, “Ad-dâ’u musyârokatullâ hi fii jabarûtih”. Namanya penyakit sosial, politik, hukum, dan lain-lain, itu sejatinya bersumber kepada menyekutukan Allah dalam hal kekuasaannya. Obatnya bukan menambah penyakit, yakni dengan isme-isme yang kebablasan, tapi obatnya itu, “adwâ’uhâ tauhîddullâhi haqqa”. Obatnya adalah tauhid dengan sungguh-sungguh. Jadi, saya juga ingat dengan kata-kata Mohammad Iqbal: “The sign of a kafir is that he is lost in the horizons. The sign of a Mukmin is that the horizons are lost in him.” Saya pernah termenung beberapa hari setelah membaca pernyataan Mohammad Iqbal yang sangat tajam itu. Karena betapa seorang mukmin akan begitu jelas, begitu paham, begitu terang benderang memahami persoalan dunia. Sedangkan orang kafir, bingung dan tersesat.

Sepertinya Muhamadiyah mulai terseret arus pluralisme, contohnya pada saat peluncuran novel Si Anak Kampoeng. Penulisnya mengatakan, sebagian dari keuntungan penjualan akan digunakan untuk membentuk Gerakan Peduli Pluralisme, pandangan Anda?

Saya tidak akan mengomentari apa dan siapa. Cuma adik saya yang anggota PP Muhammadiyah, pernah memberikan sedikit kriteria atau ukuran yang sangat bagus. Dia bilang begini, “Kalau orang Muhammadiyah sudah tidak pernah bicara tauhid dan malah bicara hal-hal di luar tauhid, apalagi kesengsem dengan pluralisme, maka perlu melakukan koreksi diri.” Apakah itu tukang sapu di kantor Muhammadiyah, apakah tukang pembawa surat di kantor Muhammadiyah, apakah profesor botak, sama saja. Kalau sudah tidak kerasan berbicara tauhid, mau dikemanakan Muhammadiyah? Muhammadiyah ini bisa bertahan sampai satu abad, tetap kuat, tidak pikun, dan masih segar, karena tauhidnya. Implementasi tauhidnya di bidang sosial, pendidikan, hukum, politik, itu yang menjadikan Muhammadiyah perkasa dan tidak terbawa arus. [www.hidayatullah. com]